Enggan untuk membayangkan apalagi
melakukannya. Tiga puluh lebih pasang mata akan menatap pada sosok yang berdiri
di depan kelas mereka dengan setengah bergetar dan jantung terasa hampir copot. Sosok itu adalah seorang guru
praktikan, sebut saja Defa, yang akan mengajar mereka selama empat bulan ke
depan.
Kelas pertama yang tertera di
jadwal adalah kelas 7C yang memiliki sederetan julukan “Ter”; ter-ribut, ter-ramai,
ter-susah di atur, ter-biang kerok dan lainnya. Julukan yang diberikan
kepada mereka bukan tanpa alasan. Akan tetapi julukan itu ada karena mereka
sendiri yang membuatnya.
Kesan pertama setelah masuk ke
dalam kelas itu adalah guru praktikan itu menyadari semua julukan untuk kelas
tersebut hampir sempurna terwujud. Akan tetapi ia melihat sisi lain dari kelas
itu. Kekuatan yang bisa dijadikan kelebihan dari kelas itu. Siswa yang sangat
aktif, senang bergerak dan banyak bicara. Hanya saja mereka sulit untuk
memahami teori.
Beberapa sosok telah tertangkap
oleh matanya dan masuk dalam ingatannya. Terdapat dua kategori siswa yang akan
mudah dikenali dalam kelas seperti itu. Yang pertama adalah seorang siswa yang
diam dan penurut, yang kedua adalah seorang siswa yang selalu menjadi provokator
dalam setiap kesempatan.
Ada seorang siswa yang langsung
tertangkap oleh matanya. Dia adalah sosok siswa yang pendiam dan penurut, bukan
hanya itu ia pun adalah siswa pintar di kelas. Sebut saja Didi, dia dikenal
dengan sebutan ‘Si Robot ’ oleh temannya
karena sikap kaku dan penurutnya. Kemudian ada Couple ‘Si Pendiam ’
Billy dan Ferdi. Lalu ada ‘Si Mungil dan
Pintar ’ Hendri, ‘Si Cerewet ’
Dirta, ‘Si Tertawa Lepas ’ Dira, ‘Si Biang Kerok, Biang Rusuh ’ Goldi, ‘Si Acuh Tak Acuh ’ Ricky, dan ‘Si Cuek ’ Zahri.
Sosok mereka lah yang pertama
kali tersimpan dalam ingatan guru praktikan itu. Akan tetapi seiring
berjalannya waktu, seluruh siswa dalam kelas tersebut memunculkan karakter
mereka masing-masing.
Lain kelas, lain penghuninya.
Lain penghuninya, lain pula karakternya. Begitulah yang guru praktikan itu
temukan di antara kelas 7A, 7B, dan 7C. Hari berikutnya, ia masuk kelas 7B.
Kelas yang lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan, ternyata tidak
lebih mudah untuk mengaturnya. Kelas yang memiliki siswa hyperactive dibanding kelas 7C, kelas paling ribut dibanding kelas
7C, bahkan kelas ini yang selalu membuat guru-guru praktikan lelah untuk
mengajar.
Banyak siswa yang terekam oleh
ingatan guru praktikan itu. Yang pertama terekam olehnya adalah seorang siswa
yang memiliki julukan ‘Si Biang Rusuh’.
Sebut saja Gama. Sebenarnya dia anak yang pintar ketika ia mau serius belajar.
Akan tetapi yang ia lakukan hanyalah mengganggu temannya dan membuat kegaduhan
di kelas.
Sebenarnya bukan hanya Gama yang selalu
membuat kegaduhan di dalam kelas. Masih banyak teman-temannya yang bergabung
untuk membuat kegaduhan yang sangat dahsyat. Akan tetapi sosok utamanya adalah
Gama. Teman-temanya hanya mengikuti.
Selain itu ada sosok siswa yang
selalu duduk manis di sudut ruangan kelas tanpa peduli apa yang sedang terjadi.
Sesekali ia hanya ikut tertawa jika ada hal lucu yang terjadi atau ia ikut
memperhatikan apa yang sedang dipelajari tapi tanpa pernah mau bertanya. Bahkan
untuk mengumpulkan tugas ke meja guru, ia menyuruh temannya yang melakukan.
Fazri, nama siswa itu yang ku
ketahui di kemudian hari. teman-temannya sudah mengenal sifat ia sejak lama.
Jadi tidak heran kalau ia bersikap seperti itu. Bahkan teman-temannya melarang
guru praktikan itu ketika ia menyuruh Fazri untuk ke depan kelas. Karena mereka
tahu bahwa Fazri tidak akan mau untuk melakukannya.
Selain itu, ada seorang siswa
yang sulit untuk diketahui karakternya. Siswa yang satu ini sempat membuat guru
praktikan itu bingung bagaimana menghadapinya. Dava, begitulah teman-temannya
memanggilnya. Ia termasuk salah satu siswa yang ikut bergabung dengan Gama.
Tapi dia tidak pernah jadi provokator pembuat gaduh kelas. Sikapnya yang
terkadang cuek, acuh tak acuh dengan pelajaran membuat guru praktikan lelah menasihatinya.
Akan tetapi sebenarnya dia
memiliki sikap penurut. Ketika pelajaran itu tidak membuatnya bosan, maka ia
pun akan mengerjakannya. Ketika tidak ada yang mengajaknya untuk berbuat gaduh,
ia pun akan jadi siswa yang pendiam.
Sebenarnya ada siswa lain yang
hampir mirip dengan Dava. Ia pun hanya terbawa oleh temannya. Sebenarnya ia
anak penurut, tapi ketika di dalam kelas ia akan jadi anak yang ngeyel dan susah di atur. Apalagi ketika
di suruh mengerjakan soal dan memperhatikan guru. Tapi sebenarnya dia termasuk
anak yang baik dan cukup pintar. Sebut saja Rana.
Ada sosok lain yang tertangkap
oleh penglihatan guru praktikan itu. Mereka adalah Nurfa dan Mecha. Mereka
merupakan siswi yang cukup pintar dalam beberapa bidang pelajaran. Akan tetapi
mereka pun bisa menjadi provokator untuk membuat kelas menjadi gaduh.
Dalam waktu yang berbeda, guru
praktikan itu masuk ke kelas 7A. Ia sudah membayangkan bagaimana keadaan kelas
tersebut. Celotehan dari guru dan rekan praktikannya membuat ia tak sabar ingin
segera masuk ke kelas 7A.
Pada kenyataannya, kelas 7A
merupakan kelas yang sangat tertib dan teratur. Seluruh siswa serentak
mengerjakan tugas dan berlomba untuk segera menyelesaikannya. Akan tetapi kelas
itu kurang aktif. Mereka terlalu takut dan enggan untuk bertindak karena sikap kehati-hatian dan takut salah yang
membuat mereka takut untuk mencoba.
Hanya ada beberapa orang yang
masuk ke dalam ingatan guru praktikan itu. Mereka adalah Tian, sosok pemimpin
yang selalu berusaha menjadi yang terdepan dan contoh untuk teman-temannya. Ia
berusaha tegas dalam mengatur teman-temannya, akan tetapi sebaliknya.
Teman-temannya mentertawakannya karena sikap sok tegasnya yang lucu.
Kemudian ada seorang siswi yang
selalu mencoba menjawab apa yang dia ketahui ketika guru praktikan itu
memberikan sebuah pertanyaan. Meskipun jawabannya kurang tepat, akan tetapi ia
tak putus asa untuk mencoba. Ia adalah Cantika.
Disamping itu ada dua orang siswa
yang bisa disebut sebagai couple.
Kenapa??? Karena mereka selalu bersaing dengan sehat dalam pelajaran. Mereka
termasuk murid yang cukup pintar akan tetapi mereka selalu bersikap hati-hati
dan takut mencoba karena mereka takut untuk membuat kesalahan. Rama dan Rido,
begitulah sapaan akrab teman-temannya.
Yang terakhir adalah seorang siswa
yang cukup aktif dalam kelas. Rudi, begitulah panggilannya. Ia selalu mencoba
untuk membuat dirinya memahami tentang materi yang sedang dipelajari. Bertanya,
berdiskusi atau meminta jawaban dari teman yang selalu dilakukannya agar ia
mengerti apa yang belum ia pahami. Berbeda dengan Fahri yang selalu diam.
Ketika dia tidak bisa atau bisa mengerjakan tugas dia akan diam saja.
Awalnya aku mengira dia tidak
suka dengan pelajaran yang di ajarkan. Akan tetapi ketika ada tugas dia selalu
mengerjakan, ketika sedang menjelaskan materi, dia pun akan memperhatikan.
Akhirnya guru itu mengetahui kenapa Fahri bersikap seperti itu. Sudah menjadi
karakternya, ia memang salah satu siswa pendiam dikelas saat itu.
Setelah beberapa hari guru
praktikan itu mengajar ketiga kelas tersebut, semakin banyak karakter dan
tingkah siswanya yang sangat unik. Terkadang ia pun tertawa geli ketika melihat
tingkah mereka. Akan tetapi, tak jarang tingkah siswanya itu membuat ia gerah dan kesal terhadap mereka.
Semakin banyak siswa yang masuk
dalam ingatannya, ia menyadari bahwa setiap siswa memiliki kelebihan
masing-masing. Ia tahu kenapa siswanya melakukan hal-hal yang kadang membuatnya
kesal, ia juga mengetahui kenapa ada beberapa siswa yang hanya diam ketika di
dalam kelas, bahkan untuk bertanya kepada guru saja mereka tidak berani.
Bahkan tak jarang dari mereka ada
yang menunjukan sikap acuh tak acuh kepadanya atau kepada guru lain. Sebenarnya
ia ingin sekali dekat dengan guru tersebut, ia juga ingin bertanya bahkan
mengobrol dengan guru. Akan tetapi mereka bingung apa yang harus mereka
lakukan. Mereka malu untuk berbicara, jadi yang mereka lakukan hanyalah sikap
cuek dan acuh tak acuh.
Sebenarnya setiap siswa memiliki
sikap unik masing-masing. Apa yang mereka lakukan dan tampakkan, terkadang itu
bukanlah sikap yang ingin mereka lakukan. Ada alasan kenapa mereka melakukan
sikap seperti itu.
Semakin lama waktu yang
dihabiskan di sekolah tersebut, guru praktikan itu mencoba untuk memahami
karakter siswanya satu persatu. Ia mencoba membuang julukan-julukan atau cap
buruk terhadap mereka. Ia menganggap bahwa muridnya itu adalah seorang anak
yang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda serta mereka belum mampu untuk
menemukannya. Mereka bagaikan sebutir mutiara yang berada di dasar lautan.
Kelas 7A, 7B dan 7C sebenarnya
memiliki kelebihan masing-masing. Seluruh siswa dalam kelas tersebut memiliki
bakat dan kemampuan masing-masing. Tidak ada murid yang bodoh, yang ada
hanyalah murid yang malas. Mereka belum mengetahui apa bakat dan kelebihan
mereka. Mereka hanya ingin dirinya di akui keberadaannya dan kelebihannya.
Mereka tidak suka aturan
sebenarnya, tapi bukan berarti mereka tidak bisa di atur. Mereka hanya tidak
ingin dipaksa. Mereka hanya butuh kepercayaan bahwa sebenarnya mereka bisa
melakukan apa yang di inginkan oleh sekolah.
Seperti halnya sekarang, guru
praktikan itu mengetahui beberapa sikap muridnya di kemudian hari. Banyak siswa
yang memiliki sikap yang berbeda dengan kesan pertama yang dilihat oleh guru
praktikan itu. Tak sedikit dari mereka memiliki sikap yang baik dan manis
setelah ia mengetahui lebih jauh tentang mereka. :) :)
PPKT is The Awesome Experience
Komentar
Posting Komentar