BEBASKAN KAMI
!!!
Masa
remaja (Adolescence) menunjukan masa
transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa. Batas umurnya tidak dirinci dengan
jelas, tapi secara umum dapat berkisar antara usia 12 sampai akhir belasan
tahun.
Berbicara
mengenai remaja tidak terlepas dari perkembangan tingkah laku remaja itu
sendiri. Perkembangan yang lebih terarah akan membimbing remaja itu menuju ke
kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi tidak semua remaja mengalami
perkembangan yang lebih terarah dikarenakan beberapa faktor.
Makin
hari makin ramai dibicarakan orang gejala meningkatnya kenakalan atau kejahatan
remaja. Sebagian cenderung mempersalahkan sekolah yang gagal menjalankan
fungsinya, sebagian lagi menyalahkan orangtua (terutama dari apa yang disebut
golongan “elite”), sebagian lagi menyalahkan kebudayaan Barat. Ada pula yang
menyalahkan remaja itu sendiri. Seandainya dapat diketahui dengan lebih pasti
jumlah dan jenis kenakalan atau kejahatan yang dilakukan oleh para remaja,
kita akan lebih tertegun.
Kenakalan
remaja sebagian besar adalah persoalan psychologis dan biososial. Secara
popular kenakalan-kenakalan remaja yang terjadi dilakukan oleh golongan remaja
yang berinteligensi rendah. Akan tetapi hal itu dapat dipatahkan dengan melihat
fakta yang sering terjadi bahwa anak yang berinteligensi tinggi pun melakukan
kenakalan remaja.
Sebenarnya
banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah lingkungan keluarga,
merupakan faktor terkuat karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal
oleh seorang anak. Jika membahas mengenai keluarga, tidak salahnya kita melihat
bagaimana seorang anak dalam sebuah keluarga diperlakukan sehingga akan berpengaruh
pada perkembangannya ketika ia remaja/dewasa.
Seorang
anak yang terlahir kedunia ini sudah tentu memiliki bakat yang dapat
dikembangkan ketika mereka dewasa. Orang tua lah yang mempunyai peran penting
dalam membantunya untuk mengembangkan bakat tersebut. Akan tetapi, kebanyakan
dari orang tua terlalu membatasi dunia anak. Mereka tidak menyediakan media dan
mendorong anaknya untuk menemukan bahkan mengembangkan bakat yang ia miliki.
Dunia anak yang penuh imajinasi harus terkikis habis oleh sikap orang tua. Hal
itu menenggelamkan kreativitas anak yang akan sangat berguna untuk kehidupannya
kelak. Oran tua selalu mengatakan melakukan semua itu untuk kebaikan anaknya,
akan tetapi apakah semua itu yang dibutuhkan anaknya. Seorang anak harusnya
tidak di cetak sesuai dengan keinginan orang tua. Tapi biarkanlah anak itu
mencetak sendiri apa minat dan bakat mereka. Orang tua hanyalah sebagai
fasilitator untuk mengawasi, mendorong dan mendukung anaknya.
Selain
itu rasa sayang yang berlebihan dari orang tua membuat seorang anak akan
terkurung dan terkekang dalam dirinya sendiri. Belum lagi doktrin-doktrin orang
tua yang mempengaruhi pola pikirnya. Hal ini membuat anak itu akan tidak tahu
jati diri mereka sendiri ketika mereka dewasa. Karena ia tidak punya keberanian
untuk mengeksplore dirinya sendiri sehingga ketika dewasa ia tidak akan mampu
untuk bermain beragam peran. Padahal jika ia berani untuk memainkan dan
berganti peran maka ia akan mampu menghubungkan beraneka ragam peran menjadi
satu identitas dirinya. Hal ini akan mempersempit remaja untuk salah jalan
dalam mencari identitas dirinya.
Seorang
remaja seharusnya memiliki rasa ingin tahu yang tingggi, berani dan kreative.
Akan tetapi sebagian remaja sekarang hanya merasakan tekanan dan ketakutan. Bahkan
dalam dunia pendidikan kini pun seorang anak hanya merasakan tekanan dan
ketakutan dalam menghadapi pelajaran. Hal tersebut membuat anak menjadi stress
dan tidak dapat menyerap ilmu yang diberikan disekolah dengan baik. Alhasil
anak itu gagal dalam pendidikan mereka.
Setiap
anak memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Sebagian
anak mungkin akan bertahan ketika mengalami tekanan dan ketakutan, akan tetapi
mereka sulit untuk bekerja maksimal dalam melakukan sesuatu karena mereka
terasa terbebani akhirnya kreativitas mereka sulit untuk dijalankan. Sebagian
yang lain akan berontak dan lari. Mereka mencari kesenangan dengan cara mereka
sendiri. Seandainya kreativitas mereka dapat dieksplore, banyak hal yang dapat
dilakukan oleh para remaja. Sehingga remaja tidak perlu melakukan hal-hal yang
tidak dapat diterima oleh keluarga maupun masyarakat yang disebut sebagai
kenakalan remaja.
Menurut
Jawwad (2004) kretivitas adalah kemampuan berpikir untuk meraih hasil-hasil
yang variatif dan baru, serta memungkinkan untuk diaplikasikan, baik dalam
bidang keilmuan, kesenian, kesusatraan, maupun bidang kehidupan lain yang
melimpah. Selain itu menurut Maslow (1991) menyatakan bahwa kreativitas
disamakan dengan daya cipta dan daya khayal naïf yang dimiliki anak-anak, suatu
cara yang tidak berprasangka dan langsung melihat kepada hal-hal atau bersikap
asertif. Kreativitas merupakan sifat yang akan diharapkan seseorang dari
pengaktualisasian diri. Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa
kreativitas merupakan suatu proses berpikir yang lancar, lentur dan orisinil
dalam menciptakan suatu gagasan yang bersifat unik, berbeda, baru, indah
efisien dan bermakna, serta membawa sesorang berusaha menemukan metode dan cara
baru didalam memecahkan berbagai masalah.
Dapat
dilihat betapa berharganya kreativitas. Negeri ini butuh orang-orang yang kreatif,
yang dapat berpikir dengan cara baru secara sederhana tapi membawa dampak besar
untuk perubahan negeri ini.
Remaja
sekarang pun sudah tidak memiliki kreativitas verbal. Mereka tidak dapat
menyampaikan apa yang mereka rasa melalui kata-kata. Karena sejak kecil mereka
tidak pernah diberi kesempatan untuk berargumen dengan alasan bahwa mereka
masih kecil. Secara tidak langsung orang tua melakukan pembatasan eksplorasi.
Orang tua tidak lagi menanggapi pertanyaan-pertanyaan anak, bahkan ketika anak
sering bertanya, orang tua justru memarahinya. Ini mengakibatkan seoarang anak
tidak dididik untuk tumbuh dan berpikir secara kritis. Hal tersebut membawa
dampak sampai mereka dewasa. Padahal remaja seharusnys mempunyai sikap kritis
agar menyikapi semua hal yang terjadi di negeri ini. Bukan hanya bisa menonton
dan bersikap acuh.
Jadi,
sikap dan karakter para remaja dibentuk ketika mereka usia kanak-kanak. Hal ini
tidak terhenti hanya di usia remaja. Bahkan ketika dewasa pun, jika mereka
tidak mau berubah, maka mereka akan tetap terkurung seperti masa kanak-kanak
mereka. Sehingga negeri ini akan banyak kehilangan potensi-potensi para remaja.
Padahal remaja/pemuda lah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini.
Komentar
Posting Komentar